15 April 2026

Kenapa saya tolak banyak project — pelajaran 10 tahun jadi serial entrepreneur

Saya tolak 70% peluang yang masuk. Bukan karena sombong. Karena saya pernah burnout di 2018 dan tidak mau lagi. Ini cara saya filter.

Saya akan jujur: saya tolak sekitar 70% project, mentoring request, dan kerjasama yang masuk.

Bukan karena saya sok eksklusif. Karena saya pernah burnout di 2018 — sampai harus berhenti operasional satu bisnis penuh — dan saya bersumpah tidak akan ulangi.

Ini frame saya untuk filter peluang.

Filter 1: Apakah ini replaces atau adds?

Setiap peluang baru pasti menambah cognitive load. Pertanyaannya: apakah ini menggantikan sesuatu yang sudah ada di hidup saya, atau menambah ke yang sudah penuh?

Kalau menambah saja → biasanya saya tolak.

Contoh: 2023, saya ditawarin jadi advisor di sebuah startup edtech. Stake-nya bagus, networking-nya mahal. Saya tolak karena saat itu Habitz.id butuh fokus penuh. Adding lebih banyak meeting per minggu = mengurangi waktu untuk Habitz.

Ini menyakitkan. Tapi setahun kemudian, Habitz growth karena fokus. Startup edtech yang saya tolak juga jalan — dengan advisor lain. Win-win.

Filter 2: Apakah saya akan bangga 5 tahun lagi?

Kalau saya hadiri seminar X, atau ambil project Y — apakah 5 tahun dari sekarang saya akan bangga? Atau akan menyesal?

Tes ini bunuh banyak “uang cepat” yang masuk:

  • Endorse produk yang saya gak yakin → tolak
  • Speaker di acara yang nggak ada visi → tolak
  • Mentoring orang yang cuma cari “cepat kaya” → tolak

Filter 3: Apakah ini one-time atau compound?

Project one-time: kerja, dibayar, selesai. Hilang tanpa jejak.

Project compound: kerja, dibayar, dan menambah aset yang akan terus berbunga.

Contoh aset compound:

  • Artikel blog (terus dibaca selama bertahun-tahun)
  • Alumni network (terus refer orang baru)
  • Email list (terus jadi audience untuk launch berikut)
  • Reputation (terus build authority)

Saya prioritaskan yang compound. Bahkan kalau bayaran one-time-nya 2x lebih besar.

Filter 4: Apakah ada misalignment values?

Saya menolak audience yang:

  • Cari “cepat kaya”
  • Tidak mau pakai effort 1-2 jam per hari minimum
  • Mau “rahasia” tanpa mau ikut framework
  • Cari validation untuk ide yang sudah jelas tidak make sense

Bukan karena mereka tidak penting sebagai manusia. Tapi karena energi mentor saya akan tidak match dengan harapan mereka, dan kedua belah pihak akan rugi.

Lebih baik saya tolak hari ini daripada ngajar selama 60 hari lalu pisah dengan kecewa.

Pelajaran besar

Burnout itu bukan hasil dari kerja keras. Burnout itu hasil dari kerja banyak hal yang tidak align dengan tujuan kamu.

Saya kerja 10-12 jam sehari sekarang. Tapi saya tidak burnout — karena 90% dari pekerjaan itu nge-charge saya. Yang 10% adalah hal admin yang harus dilakukan.

Yang harus kamu tolak bukan kerjaan. Yang harus kamu tolak adalah kerjaan yang tidak align — yang bikin kamu kosong setelah selesai.

Saran praktis kalau kamu juga di titik decision paralysis

1. Bikin “decision criteria” tertulis. 4 filter di atas itu literal saya tulis di Notion. Setiap peluang masuk, saya tes ke 4 filter. Skor di bawah 3/4 → tolak.

2. Tolak via email, bukan WhatsApp. Email lebih formal, lebih jelas, dan lebih sulit untuk “negotiation drift”. Template tolakan saya: 3 kalimat saja. Apresiasi tawaran → alasan tolak → wish them well.

3. Pakai “no” sebagai default, “yes” sebagai eksepsi. Bukan sebaliknya. Default “yes” akan bikin kamu burnout dalam 6 bulan.

4. Audit setiap 90 hari. Setiap 3 bulan, saya lihat semua commitment saya. Yang tidak compound, yang misaligned — saya offboard. Berkelanjutan.


Ini bukan saran untuk semua orang. Kalau kamu masih early career dan butuh exposure, mungkin “yes default” lebih masuk akal.

Tapi kalau kamu sudah punya 3-5 tahun pengalaman dan masih ngerasa overworked & under-impactful — coba 4 filter ini dulu sebelum nambah bisnis baru.

Hidup yang baik bukan hidup yang penuh. Hidup yang baik adalah hidup yang align.

Semua tulisan